Sang Jagoan Pada Malam Suro di Tanah Jawa

Malam suro dalam kehidupan para pendekar di tanah Jawa merupakan hari yang tepat, untuk mengasah kanoragan ilmu menuju linuwih sakti mandra guna, sehingga di hari malam suro di jadikan ajang mencoba ilmu kesaktian dengan cara pemahaman jiwa dan raga, tetapi semua tak lepas dari para pelaku pencari ilmu dan toto laku dalam memperoleh kadigdayaan linuwih kasejaten, bahkan lebih jauh dari itu malam suro telah di jadikan budaya mengadu ilmu sesama pendekar dalam mengarungi dunia linuwih batin dan raga

Derap malam suro ada sebagian pendekar yang menyalahi kodrat dengan cara mencoba ilmu dengan melukai sesama teman maupun lawan, agar diakui sebagai sang jagoan sejaten dari tanah Jawa. Inilah yang di sebut pendekar yang ingin di sanjung sebagai linuwih paling unggul di banding padepokan yang lain, sehingga terkadang melakukan tindakan Sewenang-wenang terhadap sesama dan merusak berbagai sarana umun, untuk memperoleh pengakuan stigma sang jagoan dari tanah Jawa, bahkan tak Segan-segan membuat kekacauan di kampung dan onar di segala penjuru arah mata angin pada malam suro yang penuh ketegangan dan mencekam.

Gebyar malam suro sebagai hari yang tepat dalam mengasah ilmu kanoragan dengan keberanian sang lelaki sejaten dalam mengarungi alam gaib maupun nyata, sehingga pada malam suro dapat dijadikan alam yang tepat memberikan dentuman kadigdayaan linuwih kasejaten sebagai pendekar nomor wahid di tanah Jawa.

Keberadaan malam suro telah dijadikan alat sebagai toto laku dan tirakat menuju keagungan sang pendekar sejaten dari tanah Jawa, sehingga dengan segala cara dan daya para jagoan pada malam suro mengerahkan segala ilmu linuwih, berupa Aji-ajian maupun kekuatan fisik, untuk menunjukkan paling jagoan bertanding di tanah Jawa. Inilah malam suro penuh aura mistis dalam mengarungi alam kanoragan linuwih para pendekar dari tanah Jawa.

Para pendekar di malam suro dengan mengerahkan kadigdayaan dan terus berusaha keras, untuk memperoleh pengakuan sang jagoan dari tanah Jawa, sehingga toto laku di jalani walaupun itu terasa sulit, untuk memperoleh tabiat alam kanoragan sebagai pendekar sang jagoan tanpo tanding lan lawan yang bakal mampu bertarung melawan kadigdayaan sang jagoan di malam suro dari tanah Jawa.

Sejarah para pendekar di tanah Jawa, bahwa malam suro merupakan hari keramat dan tepat dalam memperoleh wangsit ilmu gaib maupun fisik, agar mampu menjadi sang jagoan nomor wahid di tanah Jawa, maka banyak para pendekar mengasah senjata, berupa keris atau berbagai senjata lain yang di anggap mistis dan mempunyai kekuatan magis, dan malam suro adalah malam yang tepat melakukan segala ritual linuwih sebagai toto laku mencari linuwih kasejaten dari tanah Jawa. Wallahu a'lam bisshowab.............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
.