PEMBAHARUAN ISLAM


By: Khoirul Taqwim



Pembaharuan Islam merupakan sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan dalam membangun pola pikir umat Islam. Mengingat umat Islam sudah terombang-ambing dalam paradigma pemikiran para pemuka agama Islam yang dianggap kebenaran mutlak, padahal yang dijalankan para pemuka agama hanya sebatas tafsir semata, tetapi umat Islam tak sedikit yang menganggap ajaran sebuah tafsir termasuk dari ajaran Islam yang berupa wahyu Al-Qur'an, tak sedikit pula umat Islam yang mengkaji Al-Qur'an menganggap hasil dari pemahaman Al-Qur'an dianggap sebagai ajaran Islam yang berkedudukan setingkat dengan Al-Qur'an, padahal itu hanya prasangka belaka melalui penafsiran para pemuka agama Islam tersebut.

Menelaah fenomena umat Islam dalam mengkaji Al-Qur'an, tak sedikit umat Islam yang terjebak dalam dogma-dogma semata.  Sehingga tidak menghasilkan pencerahan. Karena cara mengkaji Al-Qur'an hanya berdasarkan prasangka belaka dari para ahli agama Islam. Mengingat kebenaran mutlak hanya milik Allah, sedangkan manusia tak lepas dari salah dan benar.

Sebenarnya mengkaji Al-Qur'an itu sangat baik, apabila dilandasi semangat pembaharuan corak berpikir, bukan mengedepankan dogma-dogma semata. Karena manusia yang berjalan sesuai Al-Qur'an tak lepas dari beliau Nabi Muhammad SAW. Karena beliau yang mendapatkan wahyu Al-Qur'an, sedangkan yang lainnya, tentunya masih berrsifat tafsir semata. Sehingga kebenarannya masih sangat diragukan.

Sedangkan di-era masa kini umat Islam tak jarang disuguhi para penceramah agama dengan membaca Al-Qur'an, lalu memberikan penjelasan dengan ayat-ayat yang dibacakan, padahal itu hanya tafsir beliau yang dikaitkan dengan Al-Qur'an, tentunya kebenarannya masih bersifat prasangka semata. Mengingat kebenaran yang sesuai dengan Al-Qur'an itu milik Nabi yang diberi wahyu, sedangkan lainnya hanya bersifat prasangka semata, tentunya bisa salah atau bisa benar. Dari sinilah dibutuhkan pembaharuan Islam yang mengajak berpikir umat Islam tentang kemaslahatan, bukan hanya sebatas dogma-dogma belaka, apalagi dogma-dogma yang menjurus ke-arah destruktif.

Keberadaan pola pikir pembaharuan Islam sangat dibutuhkan dalam kehidupan umat Islam, agar disaat umat Islam mengkaji Al-Qur'an tidak mudah mengklaim apa yang dijalankan berdasarkan Al-Qur'an, padahal berjalan di atas tafsir semata, untuk itulah maksud dari pembaharuan Islam, yaitu: berusaha membangun paradigma berpkir umat Islam dalam mengenali ayat per-ayat Al-Qur'an. Sehingga umat Islam tidak mudah mengklaim apa yang dilakukan berdasarkan Al-Qur'an. Sehingga akan terjadi saling menghargai antar umat Islam. Mengingat satu sama lain berjalan berdasarkan tafsir semata, tentunya dari sinilah tidak ada yang merasa benar sendiri antar umat Islam dan kelompoknya.

Pembaharuan Islam tak lepas sebagai upaya meminimalisir gerakaan teroris yang dilakukan sebagian kecil umat Islam dalam melakukan sebuah tindakan destruktif dengan menghilangkan nyawa orang lain, padahal apa yang dilakukan seorang teroris hanya sebatas berjalan ditafsir ayat per-ayat Al-Qur'an, tetapi mereka menganggap sebagai pejuang menegakkan Al-Qur'an, tentunya anggapan ini hanya prasangka semata.

Sebuah gerakan pembaharuan Islam, untuk mewujudkan fitrah didalam dada umat Islam, tentunya tak lepas dari umat Islam dalam mengkaji Al-Qur'an dengan tujuan mampu memedakan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an. Karena dengan jalan mengkaji Al-Qur'an umat Islam akan dapat melakukan koreksi diri dan bisa memberikan sebuah penjelasan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an.

Dengan mengetahui Al-Qur'an, berarti umat Islam dapat pemahaman, bahwa Al_Qur'an adalah wahyu yang kebenarannya tak diragukan lagi, sedangkan tafsir Al-Qur'an kebenarannya masih bersifat prasangka, bisa benar atau bisa salah didalam melakuan sebuah tindakan penafsiran.

Ketika melakukan tindakan pembaharuan Islam, niscaya akan terdapat saling toleran didalam tubuh umat Islam. Sehingga tidak mudah mengkafirkan dan membid'ahkan antar satu sama lain. Karena yang berhak menilai buruk dan benar hanya milik Allah, sedangkan manusia, khususnya umat Islam hanya sebatas prasangka semata.

Keberadaan pembaharuan Islam merupakan sebuah keniscayan, supaya umat Islam tidak gampang didogma oleh seorang yang mengaku ahli agama, padahal yang disampaikan dengan memenggal ayat Al-Qur'an, lalu menerjemahkan dan selanjutnya menafsirkan dengan daya, cipta, karsa mereka. Sehingga menghasilkan sebuah cipta karsa manusia yang berupa pemahaman dari Al-Qur'an yang dianggap kebenaran mutlak, padahal hanya sebatas hasil pola pikir mereka sendiri. Inilah para penebar yang mengatasnamakan Al-Qur'an dan dengan tak jarang mengkafirkan, membid'ahkan, dan menuduh kelompok lain yang berseberangan sebagai penebar jahanam dan lain sebagainya.

Harapan besar dari pembaharuan Islam tak lepas sebagai upaya umat Islam dalam menjalankan agama Islam, supaya terdapat saling menghargai, dan tentunya saling tenggang rasa sebagai wujud kebersamaan antar umat Islam lainnya. Karena kebenaran hanya milik Allah semata, sedangkan manusia kebenarannya yang berdasarkan tafsir dan prasangka belaka.

“Yang haq berasal dari Tuhanmu belaka, maka sekali-kali janganlah kamu ragu”. (QS. Al-Baqarah [2]: 147).

Memandikan Islam


By: Khoirul Taqwim


Memandikan Islam merupakan sebuah gagasan sederhana, setelah ajaran wahyu Al-Qur'an bercampur-baur dengan tafsir hasil cipta karsa manusia yang masih dipertanyakan kebenarannya. Bahkan kebenaran sebuah tafsir masih diragukan. Mengingat tafsir hanya sebatas buatan manusia belaka, sedangkan wahyu Al-Qur'an adalah: firman yang tak diragukan lagi kebenarannya.

Keberadaan Islam semenjak era klasik sampai era kotemporer tak jarang dikotori beragam aksi yang menjurus ke-arah destruktif. Karena mereka menganggap aksi yang dilakukan sudah tergaris dari wahyu Al-Qur'an, padahal itu hasil tafsir Al-Qur'an dan Sunnah, tentunya kebenarannya masih diragukan. Mengingat kebenaran yang sejati hanya milik Allah yang tersurat dari wahyu Al-Qur'an, sedangkan tafsir Al-Qur'an kebenarannya masih diragukan. Karena tafsir Al-Qur'an hasil cipta karsa pemikiran manusia belaka.

Dengan beragam aksi umat Islam dari era klasik sampai era kontemporer yang terkadang jauh dari Al-Qur'an merupakan sebuah tantangan baru bagi umat Islam, untuk terus membenahi kembali dengan berusaha mengembalikan Al-Qur'an sebagai pondasi dasar umat Islam, bukan malah terjebak dalam tafsir Al-Qur'an yang tak jarang hasil dari cipta karsa paradigma pemikiran para pemuka agama dengan tujuan politis, sosial, budaya dan lain sebagainya.

Maksud memandikan Islam tak lepas dari kondisi masyarakat Islam yang terus mengalami degradasi moral maupun degradasi pardigma pemikiran, baik degradasi dalam bentuk aksi pembenaran diri dalam melakukan aksi teroris maupun dalam bentuk lainnya. Sedangkan degradasi paradigma pemikiran tak lepas dari masyarakat Islam yang menganggap sebuah kitab ataupun lisan para pemuka agama diangap semuanya berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, padahal apa yang dikitab dan yang disampaikan para pemuka agama berdasarkan tafsir belaka.

Melihat persoalan umat Islam saat ini, tentunya dibutuhkan pola pikir yang dapat memandikan Islam, supaya umat Islam dapat berjalan bersama wahyu Al-Qur'an, bukan malah berjalan berdasarkan tafsir hasil cipta karsa manusia belaka, untuk itulah dibutuhkan kajian Islam dalam memandikan ajaran Islam, supaya tidak terjadi percampuran antara tafsir dengan wahyu Al-Qur'an.

Memandikan Islam sangat dibutuhkan mendesak bagi umat Islam,agar ajaran Islam yang telah dikotori dari beragam tafsir dapat dibersihkan kembali. Sehingga umat Islam didalam melakukan aksi dapat berjalan sesuai dengan wahyu Al-Qur'an, bukan berjalan sesuai dengan tafsir Al-Qur'an, tentunya kebenarannya yang masih bersifat prasangka belaka.

Cara memandikan Islam tak lepas dari umat Islam mengkaji kembali Al-Quran, supaya umat Islam dapat membedakan antara tafsir dengan Al-Qur'an. Karena kalau umat Islam secara terus menerus salah dalam membedakan kedua hal ini, tetunya konfliks umat Islam tidak akan terjawab secara tuntas. Maka memandikan Islam merupakan sebuah keniscayaan didalam beragama umat Islam, untuk membedakan antara ajaran para pemuka agama dengan wahyu Al-Qur'an.

Harapan besar bagi umat Islam setelah memandikan ajaran Islam, tentunya tidak ada lagi suatu golongan yang mempunyai sifat  maupun aksi mengkafirkan amalan umat Islam satu sama lain, dan membid'ahkan umat Islam yang menjurus destruktif satu sama lain. Sedangkan pemurnian Islam yag berkembang saat ini, tak lepas dari tafsir para pemuka agama belaka, padahal didalam Al-Qur'an tidak ada, tetapi yang ada hanya tafsir para pemuka agama tersebut, untuk itulah tindakan pemurnian Islam tak jarang dijadikan jalan mengelabui umat Islam yang Seolah-olah kembali pada Al-Quur'an dan Sunnah, padahal hanya sebatas kembali pada tafsir yang kebenarannya masih diragukan. Mengingat tafsir Al-Qur'an hasil cipta karsa manusia belaka.

Keberadaan persoalan aksi teroris atau aksi ekstrim yang mengatasnamakan Islam, tidak lain dan tidak bukan itu berjalan diatas tafsir para pemuka agama melalui Kelompoknya Masing-masing. Sehinga dengan adanya gagasan memandikan Islam, supaya umat Islam dapat berjalan di Al-Qur'an yang sesuai dengan wahyu, bukan kebenaran tafsir hasil dari prasangka yang kebenarannya masih sangat diragukan.

Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah bacaan yang sangat mulia. (QS. Al-Waqiah [ 56]: 77).

Mengembalikan Al-Qur'an


By: Khoirul Taqwim




Al-Qur'an yang menjadi pemahaman umat Islam dari zaman Sahabat sampai saat ini, ternyata tak lepas terjadi pencampur-adukan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an dalam pemahamannya. Sehingga tak sedikit umat Islam yang menganggap sesuatu yang diajarkan oleh para pemuka agama seolah-olah Al-Qur'an, padahal hanya sebatas pemahaman Al-Qur'an yang berupa tafsir belaka. Maka dibutuhkan penjelasan secara tepat dalam membedakan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an.

Ketika menelaah perjalanan sejarah Al-Qur'an begitu dahsyat untuk diuraikan dalam kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam diseluruh belahan bumi. Mengingat Al-Qur'an merupakan sebuah wahyu yang tidak diragukan atas kebenarannya, tetapi didalam perkembangannya banyak tafsir tentang Ayat-ayat Al-Qur'an yang dianggap setara dengan keberadaan wahyu Al-Qur'an, padahal itu hanya sebuah tafsir yang dibuat manusia belaka, tentunya tak luput dari salah dan benar, tetapi tafsir tersebut dianggap sebuah kebenaran Al-Qur'an. Maka dibutuhkan sebuah gagasan mengembalikan Al-Qur'an, supaya umat Islam dapat membedakan antara tafsir Al-Qur'an dengan wahyu Al-Qur'an.

Keberadaan umat Islam dari zaman Sahabat sampai saat ini, tak sedikit yang mengkaji tentang wahyu Al-Qur'an, tetapi tidak sedikit pula yang tersesat atas tafsir Ayat-ayat Al-Qur'an, Bagaimana tidak tersesat? Mengingat Al-Qur'an merupakan sebuah wahyu yang datang dari Allah SWT yang diperuntukkan Nabi Muhammad SAW, melalui malaikat Jibril, namun dalam perkembangan selanjutnya Al-Qur'an berubah menjadi pemahaman tafsir, dan celakanya umat Islam tidak mengetahui perbedaan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an. Sehingga menghasilkan pemahaman yang rancu ditengah-tengah kehidupan umat Islam.

Di saat tidak sedikit umat Islam dalam memahami Al-Qur'an, ternyata banyak yang tidak sadar, bahwa apa yang dipahami merupakan sebuah bentuk tafsir Al-Qur'an belaka, tetapi seolah-olah apa yang dipahami umat Islam dianggap sebuah bentuk wahyu Al-Qur'an, padahal Al-Qur'an adalah wahyu dari Allah SWT yang tidak perlu diragukan kebenarannya, sedangkan tafsir Al-Qur'an merupakan hasil cipta manusia, dan tentunya tak luput dari salah dan benar.

Kerancuan umat Islam dalam pemahaman mengenai Al-Qur'an, ternyata melahirkan sebuah tafsir yang dianggap seolah-olah Al-Qur'an, padahal hanya sebatas tafsir belaka, namun dianggap sebuah bentuk wahyu Al-Qur'an, kalau dipahami seperti ini, niscaya dapat mengakibatkan sebuah pemberhalaan terhadap tafsir Al-Qur'an, padahal kebenaran Hakiki ada didalam wahyu Al-Qur'an, dan bukan berada di tafsir Al-Qur'an. Mengingat tafsir Al-Qur'an buatan manusia, sedangkan wahyu Al-Qur'an firman Allah SWT yang tak perlu diragukan kebenarannya.

Sebenarnya kerancuan pemahaman umat Islam dalam memahami Al-Qur'an, tak lepas dari umat Islam itu sendiri yang memahami permasalahan keseharian yang Seolah-olah ada di dalam wahyu Al-Qur'an. Sehingga terjadi sebuah bentuk yang Seolah-olah antara keseharian umat Islam sama dengan wahyu Al-Qur'an, padahal dalam keseharian umat Islam dengan keberadaan wahyu Al-Qur'an terjadi perbedaan permasalahan, tetapi permasalahan keseharian umat Islam itu ditarik kesimpulan yang Seolah-olah sama dengan permasalahan yang ada di dalam Al-Qur'an, padahal berbeda bentuk permasalahan antara wahyu Al-Qur'an dengan konteks keseharian umat Islam tersebut.

Ketika umat Islam dalam memahami sebuah wahyu Al-Qur'an, ternyata tak sedikit yang terjebak dalam sebuah tafsir belaka. Sehingga memunculkan perbedaan pemahaman umat Islam antara yang satu dengan yang lainnya, kalau perbedaan pemahaman ini saling menghargai, niscaya akan menghasilkan sebuah kekayaan tafsir Al-Qur'an, tetapi kalau tidak terjadi saling tenggang rasa, niscaya akan terjadi perpecahan antar umat Islam tersebut.

Perpecahan umat Islam tak lepas dari perbedaan pemahaman Al-Qur'an. Sehingga memunculkan berbagai sekte dan para kelompoknya. Sedangkan para pemimpin sekte maupun para penganutnya, terus menerus berusaha mencari pembenaran diri, melalui pemahaman dari sebuah penggalan Ayat-ayat suci Al-Qur'an yang seolah-olah itu adalah Al-Qur'an, padahal itu hanya sebatas pemahaman tafsir menurut kelompok dan sekte Masing-masing dalam memahami Al-Qur'an.

Berangkat dari sinilah dapat diambil sebuah titik temu, bahwa umat Islam Al-Qur'annya sama, tetapi tafsir Al-Qur'annya yang membedakan. Sehingga dengan perbedaan tafsir inilah yang tak jarang menghasilkan konfliks antar umat Islam sejak zaman Sahabat sampai zaman saat ini.

Konfliks tafsir Al-Qur'an inilah yang mengakibatkan umat Islam terkotak-kotak dalam sekte yang menghasilkan fanatisme buta dalam kelompoknya Masing-masing sekte tersebut. Maka dibutuhkan sebuah pemahaman baru mengembalikan Al-Qur'an, supaya umat Islam dapat membedakan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an. Sebab kalau umat Islam berlarut-larut dalam konfliks tafsir AlQur'an, tentunya yang akan dirugikan umat Islam itu sendiri.

Jadi umat Islam sebenarnya sepakat, bahwasannya Al-Qur'an yang ada itu sama, tetapi tidak sepakat dalam pemahaman Al-Qur'an yang disebut dengan istilah: "tafsir", dan kerusakan umat Islam tak lepas dari mensakralkan tafsir Al-Qur'an yang seolah-olah sama seperti Al-Qur'an, padahal tafsir Al-Qur'an hanya sebatas buatan manusia belaka, dan tentunya kita tidak boleh menyamakan kedudukan tafsir Al-Qur'an dengan wahyu Al-Qur'an. Karena kalau kita menyamakan kedudukan keduanya, berarti sama dengan kita menuju bentuk kesesatan yang menyamakan hasil cipta manusia dengan firman Allah SWT. 

Konsep mengembalikan Al-Qur'an ini merupakan sebuah bentuk resep, supaya umat Islam diseluruh dunia dapat membedakan antara Al-Qur'an dengan tafsir Al-Qur'an. Karena tak sedikit umat Islam yang terjebak apa yang disampaikan para pemuka agama yang Seolah-olah Al-Qur'an, padahal hanya sebatas tafsir Al-Qur'an. Sehingga tak sedikit pula yang mensakralkan tafsir Al-Qur'an yang seolah-olah kedudukannya sama dengan Al-Qur'an, padahal tafsir Al-Qur'an hanya sebatas daya pikir manusia belaka, dan tentunya bisa salah atau bisa benar. Sedangkan Al-Qur'an, adalah: kebenaran Hakiki yang tidak perlu diragukaan kebenarannya.

Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (QS. Al-Baqarah [2]: 147).