PENCARIAN



Oleh: Khoirul Taqwim

Jiwaku meraung-raung kesakitan
Batinku teriris hingga aku terlempar
Ingin sekali aku meraih bintang-bintang diangkasa
Apa daya tangan tak sampai
Kemana harus pergi jiwa ini yang resah gelisah
Aku haus air tuk sejukkan batinku
Kurebahkan pikiranku tuk tenangkan jiwa
Aku terkapar dikegelapan malam
Biarlah aku berdiri disini menanti hari esok
Tuk buktikan kesetiaan
Atas apa yang tak kau tahu
Agar kau tahu jiwaku meronta dibalik bukit rasa
Merona dalam pencarian mata kalbu

Kutunggu sejauh ada tak ada
Menunggu rembulan
Raihku dalam mimpi
Perjalanan raih cahaya jauh terasa
Aku harus tahu hakikat hidup

Jiwaku sepi bersama awan kelam
Kumeronta-ronta disudut malam yang panjang
Wahai binatang!!..
Wahi Iblis!!..
Kemana malam ini
Kau tak tak datang sambut gelap
Kau biarkan aku disini
Sendiri tanpa ada kau temani

Anjing-anjing menggonggong
Bermata Satu
Berdarah dingin
Siap lepas hasrat
Aku resah gelisah
Mencari hidup
Jalan tak kunjung jua
Sempurna yang kucari

Mata sejauh menghilang
Hati sejauh tak sampai
Mimpi kosong
Angan-angan tak hilang pekat
Cari tak pernah puas
Cari hilang sendiri
Semua masih dalam satu cari

SOBAT

Oleh: Khoirul Taqwim

Kelam dalam kelabu
Hitam dalam kemelut
Terang hadirkan
Saat mimpi buta kau datang
Jiwa tenggelam dalam buku
Pena menuntun hakikat hidup
Kubiarkan diri mengitari bumi
Mencari secercah cahaya
menantang langit udara
kubisu
kubuta
datanglah kau kutunggu

Sobat
Seruku dengarkan!...
Pahami kehidupan langit
Jangan lupa membumi saat kau jatuh
Awan-awan tebal memanas
Halilntar berkilat
Menggelegar petir menyayat
Kehidupan berjalan tetap waktu

Sobat
Aku disampingmu
Kau adalah pelita dalam jiwa
Terang benderang dalam kalbu
Saat kau tiba datang

Sobat
Mari kita lalui dunia hitam
Bersama buku terserak
Gapai hidup cita ini
Lintas batas menghadap
Terjang saat kau tiba
Lantas semua tuntas

Sobat
Tunjukkan jari otakmu
Gapai bintang dicakrawala
Lewat pena kita ada
Lewat pena kita julang
Lewat pena kita tebang
Raih semua yang ada

Sobat berlarilah
Membumi melangit dalam nafas

HILANG KEADILAN NEGERIKU

Oleh: Khoirul Taqwim

Entah berantah
Jagat bolak-balik
Rongsokan membumi
Bobrok negeriku
Hilang adil nyawa
Hilang tonggak kearifan
Tinggal kesedihan memalu
Tinggal puing-puing kehidupan
Semua jadi sampah kebenaran

Keadilan
Musnah kemana?..
Hilang kemana?..
Semua tak tersisa
Hasrat nafsu membunuh keadilan

Lembaga peradilan
Jadi bualan
Jadi tontonan
Jadi sandiwara
Buta dalam kata
Buta dalam jiwa
Buta dalam nurani
Bangsaku dirusak cukong-cukong mafia

Hakim
Suara yang dulu nyaring
Bahasa kebenaran harusnya dipegang
Kemana lari kebenaran
Dulu terpegang menggenggam
Kebohongan bukan sahabat
Kebenaran tegak
Keadilan jalan kemuliaan
Sekarang hilang tak sisa
Sekarang jadi bualan
Dimakan waktu zaman
Cukong berduit
Rusak peradilan
Rusak keadilan
Kebenaran uang
Kebenaran jadi sampah
Kebobrokan jadi kemenangan

Keadilan negeriku
Musnah
Hilang
Rusak
Bobrok
Terjual
Tanpa sisa kebenaran

KEARIFAN NELAYAN KECIL

Oleh: Khoirul Taqwim

Ikan kecil tak masalah
Ikan besar alhamdulillah
Teriak nelayan kecil diujung laut
Mencari isi perut selagi kosong

Nelayan kecil ditengah laut
Ombak jadi santapan perahu
Badai laut jadi irama
Diujung laut nelayan kecil mengupil

Malam semakin larut
Ikan tak kumpul jua
Malam semakin pergi
Nelayan kecil resah dalam kopong

Ikan hari ini lagi sepi sedan
Tak apa esok masih ada
Gelisah campur syukur jadi Satu
Terucap dalam dada nelayan diujung laut

Kearifan nelayan kecil
Ilahi jadi spirit dalam jiwa
Pejabat negeri yang jauh disana
Lihat kearifan sang nelayan diujung laut

Nelayan kecil yang bijak
Sorot gelisah walau ada
Syukur ilahi lebih utama dalam prinsip
Jati diri sang nelayan kecil diujung laut

TINGGALKAN KAMPUNG KECILKU

Oleh: Khoirul Taqwim

Jam 12 siang nanti kuharus angkat kaki
Tinggalkan kampung yang asri
Pohon sambut pergiku
Derai air mata kucing kecilku

Hati terasa sedih mendekat
Tiba-tiba seketika ingat cita-cinta
Kuharus angkat kaki demi sumpah palapa
Gajah mada terlintas sejenak

Mondar-mandir jam 12 tepat
Cikar tak datang juga
Jam molor benar tiba
Jam 1 siang benar kepalang

Apa hujan jadi hambat laju cikar
Kusedu kopi sejenak
Pecah suasana jadi cafein
Dingin jadi hangat dalam raga

Jam 12 jadi jam 1 tepat
Kulangkah kaki berangkat
Selamat tinggal kampung kecilku
Kukan kembali sebelum mahkota kudapat