DESAKU MULAI HILANG

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Waktu mengarah maju

Saat desaku kala itu

Sungai mengalir jernih

Pohon bah hutan amazon

Desiran angin sejukkan warna

 

Waktu berganti berlalu

Pagi hilang nyanyian burung

Siang hilang kedai hangat di pojok kampung

Sore tak nampak lagi batang hidung bawa kayu bakar dari hutan

Sekarang tinggal sepucuk cerita

 

Jalan desaku yang dulu asri

Tertata rapi batu kali di jalan

Nampak hiburan hayalan malam

Hirup udara sepuas pulas

Hingga pulas dalam pelukan alam

 

Hari ini desaku lain bahasa

Polusi terserak di hamparan udara

Bisik deru mesin tak kenal waktu

Benar bencana desaku saat ini

 

Kemana hilang desaku yang nyaman?....

Kemana hilang desaku yang permai?.....

Sekarang berganti bising

Banjir sana-sini tak terelakkan

Saat musim hujan kan datang

Gara-gara hutan pohon gundul

Ditebang untuk penghuni cakar langit

Hingga hilang sudah desaku dulu kala

BATU NISAN MENGHADAP SI TUAN

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Nyawa tak kemana

Saat malaikat pencabut datang

Pisahlah sudah nyawa raga

Tinggal puing-puing jasad tergeletak

 

Dua batu tertancap selatan utara

Terpampang di makam khatulistiwa

Saat manusia tutup mata

Kebumikan itu bahasa akhir cerita

Terseraklah bunga di atas kuburan

Menghias alam kramat

Di ujung batu nisan

 

Batu nisan di jemput menghadap

Si tuan yang lagi pisah raga

 

Batu nisan menghadap si tuan

Waktu habis nyawa di raga

SANG JUARA CATUR 2007

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Tahun 2007

Ingatkan aku saat memegang piala

Hati bahagia tertoreh rasa

Terasa langit ada dalam genggaman jiwa

Udara segar jernihkan pikiran

Tropi kebesaran kugenggam erat di tangan

Ingin kutunjukkan pada alam raya

Bahwa hari kemenangan telah tiba

 

Sang juara catur 2007

Puluhan mata sambut kebahagiaan

Masa muda bangkit penuh gairah

Lambaian semangat juang tatap perkasa

Indah mewarna rasa ini

Membahana kepenjuru rahim kehidupan

 

Sang juara

Melangkah menuju pembebasan

 

Tahun 2007

Keberuntungan bagi sang prestasi

Tanda keberkahan nafas kehidupan

 

BENCANA CINTA

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Malam suram tak semewah kemarin

Sebab hari ini indah alunan duka iringi irama gelisah

Jarum hati tak henti menusuk perlahan-lahan

Sirna tak kunjung usai terbawa desiran peluru

Amunisi cinta hilang di telan hujan malam

 

Cinta terabaikan

Waktu tak bisa bicara

Enam tahun tak ada arti menunggu

Yang ada rasa saket di dada

Ironis benar nasib ini

Terasa racun dibuatnya

 

Akhir sebuah cinta

Mati di batu nisan

Kalap jiwa terombang-ambing tanpa nahkoda

Selamatkan dari duka rasa yang tak terkira

Dahsyat benar lara ini

Hingga bawa hari-hari berteman sepasang hayalan

 

Bencana cinta

Dapat melanda siapa saja

Bagi penggemar rasa

Terkadang harus tertimpa tangga

 

Bencana cinta

Bertepuk sebelah tangan

Bertepuk sebelah kepala

Bertepuk sebelah jiwa

Melanda setiap goresan putus asa

SERAKAH SANG PENGUASA

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Kala pengemis jalanan mengais rizki disampah

Penguasa ambil tembakan mengusir para faqir miskin

Dengan lantang di media massa bicara

Ketertiban harus didahulukan

Agar kota terlihat indah pesona

Tak ambil pusing kemanusiaan

Yang ada dalam otaknya keuntungan

Walau harus mengorbankan masyarakat pinggiran

 

Kala sang penguasa lapar tahta singgasana

Diambil apa yang dimau

Walau jauh dari kata halal

Asal perut kantong tetap tebal

 

Kala wong cilik lagi lapar

Korupsi dilanjutkan dengan rasa tanpa salah

Menutup mata sekencang kabut awan

Agar tak melihat lapar kering kerontang

 

Bencana kemanusiaan

Lahir dari darah penguasa serakah

Negeri tak ada keadilan

Yang ada ambisi kekuasaan

Harta tak ketinggalan diperebutkan

Walau harus kehilangan jutaan kepala rakyat

Hati trenyuh campur haru

Melihat kondisi yang penuh serapah serakah

 

Serakah sang pengusa

Mewarna di negeri buta hati