MENDUNG MENGHITAM




Oleh: Khoirul Taqwim



Gemerlap hati

Mempesona dalam jiwa rasa

Indah menggila

Saat jiwa lelah meratap

Keangkuhan

Kebobrokan

Mengiringi langkah kehidupan


Sang surya lagi tak bersinar

Ditelan mendung menghitam

Hati kalut

Bergelora dalam kabut

Iringi kekosongan kebutaan

Semua sirna ditengah lautan udara


KENANGAN CINTA KABUT





Oleh: Khoirul Taqwim




Sekedar mengenang

Kisah bangku kuliah

Kau sandarkan kepala

Penuh uraian mata

Kau ucap jangan tinggalkan aku

Karena jiwa ini sudah tertawan dalam raga sukma


Diri terlanjur cinta rasa

Menjadi-jadi dalam hati

Hingga lalai kalau ada

Bahwa ini hanya kisah

Terbawa dalam lamunan

Pentas soreku


Harus pergi kearah lintang raya

Menggugah isyarat

Berujung cipta mimpi 

Terurai bahasa kabut

Tak menentu arah panduan

Mengitari ruang kehampaan

BINTANG BULAN





Oleh: Khoirul Taqwim




Tanya pada bintang

Apa dia punya makna

Melingkar di langit raya

Indah ramaikan malam


Rembulan tak ketinggalan

Uraikan cahaya

Saat gelap kunjung tak usai

Tanggal 15 bulan

Itu paling sempurna

Bersinar terang

Menembus jagatnya gelap

Malam yang tak kenal matahari

Seiring putaran rotasi

Membahana dalam sukma raja-raja alam


Bintang Bulan

Karya langit

Terukir di angkasa

Sejukkan mata pandang jiwa


SEPARUH HATI KERASUKAN


]


Oleh: Khoirul Taqwim



Tak bisakah kau paham 

Arti cemberut ini

Yang selalu temani pipi kecut

Saat kau dekat si jalang 

Yang terluncur bahasa kulum


Bibir merah semangka

Berubah jadi biru

Gigi menggigit

Seolah-olah lapar di siang bolong

Tak pernah makan seminggu

Ingin sekali makan ocehanmu

Dan kumuntahkan dalam sakumu

Biar kau tahu

Bahwa hati ini sedang demo padamu

Ya tak di jalanan

Tapi di ruang batin kecilku

Menerawang dalam rasukan jiwa

Tenggelam kisah kasmaran

Duka sesak nafas hati jiwa


Separuh nafas

Hati tersobek

Arah tak kunjung usai

Di makan tingkah laku

Hitam bongkahan tinta

Iringi hati hilang

Setengah sadar

Setengah kerasukan

LARINYA NYAWA




Oleh: Khoirul taqwim




Terjatuh lubang

Tak sadar apa yang ada

Kabur terbuta

Kabut iringi gelap warna

Mengisi pena ranah kehidupan

Sertai bongkahan kayu melintang


Hidup mimpi sejenak

Batas adalah suratan

Tak kemana jika kepastian datang

Menjemput jiwa ruh dalam

Hingga mengalir keawan alam


Larilah

selagi bisa

Malaikat akan mengejar kemana kau ada

Bila nyawa telah jadi suratan sang pencipta

Tinggal menunggu kepastian

Lari tak ada guna

Nyawa lari tunggang kelanggang

Bangkai di telan alam

Daging di makan cacing bergelantungan

Jadi abu

Kembali keasalnya

Tak ada kabar

Yang ada tinggal sisa-sisa alam