HUJAN AIR MATA

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Hari ini hujan air mata di pipiku tak kunjung usai

Tak terasa sudah genangi basah jalanan jiwa

Tergores bahasa putus dari mulut kecilmu

Alunan suara senandung lelah tak kunjung usai

Celah-celah hati ingin di masuki sebisa hembusan angin robohkan hijau dedaunan

 

Cinta hati rasaku pupus sudah

Di telan angkuhnya sebatang kehidupan

Indahnya dalam imagiku terlintas mimpi buruk

Akhirnya nyata benar tiba kau harus hilang dalam hidupku

Pilihlah pujaan hati dinda

Bila engkau yakini kan bahagiakan nafasmu

 

Hujan air mata ini

Tak terbendung sudah

Bukan karena aku sedih atau bahagia

Tapi ini hanya sebatas bagian kehidupan manusia

Aku hanya sebatas kaki berjalan tinggal nahkoda kehidupan kemana kan bawa hidupku

 

Tangis bukan berarti kedukaan

Bukan pula senang dalam jiwa

Ini hanyalah alam diriku yang mencuat dalam genangan air mata

 

Terima kasih kuucap pada kata putus

Sudah lama mata tak tersiram air kaca jiwa

Hari ini sampai lusa air mata basahi sekujur tubuhku

MENUNGGU BELAHAN JIWA

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Jiwaku terbelah dua

Hampa hati rasa

Bila belahan tak kunjung datang

Yang ada sebatas kata sedih luka lara

Di sekujur hati jiwa

 

Belahan jiwa

Kutunggu dinda di samping rasa

Terbelah laksana petir menyambar

Indah pesona cahaya kilatnya

Sekaligus lengkapi rasa takutku

 

Lepaskan belahan jiwa

Berat terasa dalam hati

Bawa hati sedih menggigil

Walau udara tak dingin kala hujan turun

Embun sambut dinding sepi rasa jiwa

 

Menunggu belahan jiwa

Hingga rambut memutih

Ketulusan cinta hati

Hinggapi rasa dalam peluk kesah

Ruh hirup udara bahagia

Jasad bersenandung gembira

Walau hadirmu tak kunjung jua

Hati ini tetap bahagia

Di atas air mata duka

Bahagia duka jadi Satu

Tumbuh subur dalam benak terdalam

MALAM DI BAWAH BAMBU

   

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Keringat bercucuran di badan

Dingin menggigil badan

Lelah sejenak hampiri rasa

Buat jiwa nampak beku kaku

Ingatkan hari pertama saat peluk kesah

 

Bintang langit

Menatap bambu sedu

Resah hati merasa kaku

Gerakan lambaian tangan sirna

Hilang……….

Hilang……….

Hilang……….

Sudahlah sudah

 

Malam sendu haru

Mendengar bisikan gemercih air di sudut rawa

Tak menyangka ada sekelompok ular meliuk di udara

Aku duduk dibawah bambu

Mataku memandang sejauh warna

Hingga lelap lupa malam semakin larut gelap

 

Malam di bawah bambu

Bayangan alam menjumpa dalam nyata

Indah hati bahagia

Sirna duka lara sesaat

Hilangkan beban pekat melekat dalam lara

 

 

DESAKU MULAI HILANG

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Waktu mengarah maju

Saat desaku kala itu

Sungai mengalir jernih

Pohon bah hutan amazon

Desiran angin sejukkan warna

 

Waktu berganti berlalu

Pagi hilang nyanyian burung

Siang hilang kedai hangat di pojok kampung

Sore tak nampak lagi batang hidung bawa kayu bakar dari hutan

Sekarang tinggal sepucuk cerita

 

Jalan desaku yang dulu asri

Tertata rapi batu kali di jalan

Nampak hiburan hayalan malam

Hirup udara sepuas pulas

Hingga pulas dalam pelukan alam

 

Hari ini desaku lain bahasa

Polusi terserak di hamparan udara

Bisik deru mesin tak kenal waktu

Benar bencana desaku saat ini

 

Kemana hilang desaku yang nyaman?....

Kemana hilang desaku yang permai?.....

Sekarang berganti bising

Banjir sana-sini tak terelakkan

Saat musim hujan kan datang

Gara-gara hutan pohon gundul

Ditebang untuk penghuni cakar langit

Hingga hilang sudah desaku dulu kala

BATU NISAN MENGHADAP SI TUAN

Oleh: Khoirul Taqwim

 

Nyawa tak kemana

Saat malaikat pencabut datang

Pisahlah sudah nyawa raga

Tinggal puing-puing jasad tergeletak

 

Dua batu tertancap selatan utara

Terpampang di makam khatulistiwa

Saat manusia tutup mata

Kebumikan itu bahasa akhir cerita

Terseraklah bunga di atas kuburan

Menghias alam kramat

Di ujung batu nisan

 

Batu nisan di jemput menghadap

Si tuan yang lagi pisah raga

 

Batu nisan menghadap si tuan

Waktu habis nyawa di raga