Wabah Korupsi Indonesia


Negeri Indonesia di hadapkan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga wajar persoalan di Indonesia begitu cepat silih berganti antara yang datang maupun pergi. Bahkan terkadang membuat hati masyarakat jengah dengan berbagai pemberitaan mengenai nasib bangsa yang kian mulai tenggelam dalam kerusakan.

Penyebab utama kerusakan bangsa Indonesia di sebabkan faktor dari para oknum pengelola negara yang melakukan tindak korupsi. Sehingga negara sangat di rugikan dengan tindak korupsi yang di lakukan para oknum pengelola negara, tentu membuat bangsa Indonesia semakin tenggelam dalam penyakit kanker yang di sebabkan aksi para koruptor di negeri Indonesia.

Mengatasi para koruptor di negeri Indonesia terasa sulit sekali. Mengingat para pelaku tindak korupsi dari para pemegang kekuasaan. Sehingga hukum negara tidak mampu menyentuh atas keberadaan kekuasaan para penilep uang negara tersebut. Nah! dengan demikian bangsa Indonesia telah mengidap penyakit kanker yang mustahil di carikan obat penyembuhnya, kecuali dengan ditegakkan hukum yang tegas, berani dan berwibawa, tetapi semua itu dibutuhkan sebuah proses yang panjang dalam melawan para penilep uang negara.

Koruptor merupakan sebuah penyakit watak dan kepribadian yang paling merusak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga wajar di saat sebuah negara terkena sebuah penyakit korupsi. Maka dengan cepat penyakit korupsi menjadi kanker kehidupan dalam sebuah negara. Bahkan setiap saat mengancam keutuhan sebuah negara, tentu semua harus di selesaikan dengan tepat sasaran dalam mengatasi sebuah penyakit korupsi di negeri Indonesia.

Bangsa Indonesia merupakan sebuah negara besar dengan berbagai pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tentu semua itu harus di kelola dengan baik, agar kekayaan nusantara Indonesia dapat di nikmati oleh segenap tumpah darah masyarakat anak negeri. Namun dalam realita kebangsaan, ternyata harta kekayaan bangsa Indonesia hanya di nikmati para penyimpang uang negara, kalau itu secara terus-menerus di biarkan, berarti telah mengingkari sebuah nilai tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang tertuang dalam falsafah pancasila butir ke-5.

Keberadaan koruptor di Indonesia memang masih begitu parah dalam kehidupan berbangsa. Sehingga menghasilkan sebuah bangsa yang jauh dari nilai keadilan dan pemerataan. Berangkat dari situlah di harapkan segenap masyarakat bangsa Indonesia, untuk terus memantau keberadaan kekayaan nusantara, agar tidak di tilep oleh sebagian oknum yang mengatasnamakan masyarakat Indonesia.

Bangsa Indonesia sudah cukup menderita atas tertimpa sebuah wabah korupsi yang begitu dahsyat dalam Sendi-sendi kehidupan. Sehingga operasi total di segala aspek kehidupan harus di lakukan dengan cara revolusioner di segala ranah, agar segera mungkin korupsi dapat berhenti dalam kehidupan bangsa Indonesia, agar kehidupan masyarakat Indonesia mampu bangkit kembali menjadi negara yang kuat dan kokoh dalam menatap masa depan.

Penyakit korupsi Indonesia sudah mewabah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tentu sudah saatnya di berantas dengan cepat, agar penyakit korupsi tidak menular di segala aspek kehidupan secara universal. Sebab kalau penyakit korupsi di biarkan, tentu tidak menutup kemungkinan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tinggal menunggu hitungan waktu menuju sebuah lubang kehancuran. Karena tidak ada sebuah bangsa abadi di alam semesta, semua punya umur dan jangka waktu dalam membangun sebuah peradaban bangsa.

Penyimpangan melalui korupsi merupakan sebuah penyakit yang dapat menimbulkan kerusakan sebuah bangsa. Bahkan lebih jauh lagi korupsi mampu membuat tutup usia sebuah bangsa di sebabkan penyimpangan korupsi yang berkelanjutan dan tidak ada solusi sedikitpun dalam menyelesaikannya. Dan Allah maha penetap hukum dan tidak ada seorangpun yang dapat menolak ketetapan-NYA.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
..........

Mensinergikan Teks Dan Konteks Dalam Islam


Benturan teks dan konteks terkadang terjadi di sebabkan salah dalam menerjemahkan atau salah dalam pemahaman sebuah teks dengan konteks secara tepat. Sehingga mengakibatkan sebuah ketidaksamaan dalam pemahaman secara benar, berangkat dari sinilah di butuhkan sebuah ta'wil secara tepat dalam memahami antara teks dan konteks.

Islam merupakan agama wahyu sebagai pedoman manusia, tetapi dalam perjalanan Islam terdapat berbagai halangan dari kaum yang tidak menyukai atas kehadiran Islam. Namun apapun itu Islam sampai hari ini tetap berdiri tegak dan kokoh di bumi Allah. Inilah anugerah terbesar bagi umat Islam saat melihat bangunan Islam begitu besar dalam realita kehidupan.

Perjalanan umat Islam di lihat dari sebuah sejarah besar, ternyata telah mengalami berbagai perbedaan pemahaman sejak di masa sahabat nabi. Sehingga kita mengenal dengan istlah Khawarij, Murji'ah, dan Syi'ah. Ketiga kelompok inilah sebagai cikal bakal sebuah perbedaan umat Islam yang lebih luas lagi dalam pemahaman tentang ajaran Islam.

Memang perbedaan merupakan sebuah rahmat agung, apabila umat Islam mampu menghargai sebuah perbedaan dengan dewasa dan tanggung jawab di setiap menghadapi sebuah perbedaan. Namun kalau sebuah perbedaan di anggap destruktif, tentu akan menghasilkan sebuah kekacauan di segala aspek kehidupan, sekaligus mengakibatkan kehancuran dalam tubuh umat Islam itu sendiri.

Perbedaan umat Islam di sebabkan sebuah multi ta'wil antara teks dan konteks tidak sejalan dengan kelompok lain. Dari sinilah umat Islam mengalami sebuah perbedaan dalam tatanan hukum maupun dalam bentuk tatanan yang lain.

Islam mengajarkan tentang sebuah kebenaran harus di tegakkan dalam kondisi apapun. Namun dalam ranah realita kehidupan, ternyata dalam tatanan masyarakat telah mengalami destruktif akhlak di sebabkan kecenderungan masyarakat mengejar profan dan meninggalkan kehidupan sakral.

Melihat perbedaan pandangan umat Islam dalam memahami tentang ajaran Islam, ternyata di sebabkan antara teks dan konteks dalam pemahaman tidak sejalan. Sehingga dapat di tebak kerancuan paradigma berpikir mengalami sebuah perbedaan yang mencolok dan menghasilkan sebuah kerancuan tatanan dalam realita kehidupan.

Multi ta'wil dalam kehidupan umat Islam merupakan sebuah rahmat yang agung, kalau antara teks dan konteks dapat di sinergikan dengan cerdas dalam mengambil sebuah kesimpulan, untuk di jadikan sumber dari segala sumber. Namun kalau multi tafsir terdapat sebuah semangat sekte buta dalam melakukan sebuah kajian tentang Nilai-nilai ke-Islaman, tanpa melihat sebuah kebenaran haqiqi. Maka sudah dapat di tebak proses dalam penafsiran tentang teks akan mengalami sebuah istilah liberal dalam menghasilkan sebuah tatanan hukum.

Kalau istilah ta'wil liberal sudah menyusup dalam dunia Islam. Maka akan terjadi sebuah dilema besar bagi tatanan lehidupan msayarakat dan tidak dapat di pungkiri kerusakan dalam ta'wil teks maupun konteks akan terjadi sebuah kerancuan dalam tatanan hukum maupun dalam tatanan lain.

Berangkat dari tulisan di atas di butuhkan sebuah terobosan yang cerdas dalam mensinergikan antara teks dan konteks dalam menghasilkan sebuah bangunan Islam, agar umat Islam mendapatkan sebuah ta'wil antara teks dan konteks dan saling melengkapi sebuah kehidupan profan dengan kehidupan sakral.

Mensinergikan teks dan konteks dalam tubuh Islam merupakan sebuah jalan pencapaian keseimbangan dalam menatap masa depan. Sehingga Islam dapat di rasakan sebuah keharmonisan kehidupan dalam tatanan keindahan dan menghasilkan sebuah bentuk bangunan secara kaffah.

Semoga Allah memberi jalan petunjuk kepada kebenaran dengan anugerah dan kemuliaan-NYA, Amiin............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
............

Menggali Khazanah Islam Dalam Ranah Budaya Nusantara


Khazanah Islam dalam ilmu pengetahuan begitu luas keberadaannya. Bahkan air dalam tiga lautan di bumi, tidaklah cukup di jadikan tinta dalam menulis dan menggambarkan tentang keagungan Islam, tetapi dengan proses menggali khazanah Islam dalam ranah budaya di harapkan mampu mencapai sebuah perpaduan antara budaya dengan khazanah Islam secara elegan dan saling melengkapi satu sama lain.

Islam merupakan agama wahyu dari sang maha agung dengan segala yang mengajarkan berbagai moral kehidupan. Sehingga Islam di jadikan sebuah cara pandang masyarakat dalam melakukan berbagai aktivitas Sehari-hari, agar manusia tidak terjerumus dalam kesesatan.

Keberadaan khazanah Islam di nusantara dapat di jadikan sebuah inspirasi tentang sebuah nilai kehidupan masyarakat dalam menuju kehidupan sejati. Sebab Islam mengajarkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dengan akhirat kelak. Inilah sebuah nilai Islam tentang tatanan dalam kehidupan masyarakat secara luas, untuk mencapai hidup mulia dan wafat dalam keadaan khusnul khotimah.

Menerapkan ajaran Islam dalam realita kehidupan masyarakat di butuhkan sebuah paradigma berpikir secara cerdas, tentu dengan cara menggali khazanah Islam dalam ranah budaya. Sebab khazanah Islam begitu kaya dalam ilmu pengetahuan. Maka di perlukan sebuah galian tentang khazanah Islam secara khusus dalam ranah budaya, agar terdapat sebuah perpaduan dan keseimbangan dalam mensinergikan antara budaya dengan khazanah Islam.

Sedangkan budaya nusantara merupakan sebuah nilai luhur dalam kehidupan masyarakat. Bahkan sejak dahulu kala budaya nusantara sudah berkembang dan mempengaruhi watak kehidupan masyarakat dalam kehidupan Sehari-hari.

Menggali khazanah Islam dalam ranah budaya nusantara di butuhkan sebuah tatanan nilai tentang saling menghargai, kerukunan, tenggang rasa, dan berbagai nilai positif lain, agar terjadi sebuah mutualisme antara kehidupan profan dengan kepribadian masyarakat nusantara.

Masyarakat nusantara merupakan sebuah kumpulan dari berbagai unsur budaya dan berbagai paduan norma, tentu semua lahir dari semangat dalam melakukan sebuah rekonstruksi paradigma pemikiran dalam aktivitas masyarakat secara universal dengan menjunjung tinggi keadilan di bumi nusantara.

Menggali khazanah Islam dapat memicu pola pikir baru dalam kehidupan masyarakat, agar budaya nusantara dapat berjalan secara berdampingan dengan khazanah Islam. Sebab khazanah Islam merupakan ruh kehidupan umat manusia. Sedangkan budaya merupakan kepribadian masyarakat dalam kehidupan Sehari-hari. Inilah sebuah konsep sederhana tentang khazanah Islam dan budaya dalam menata tatanan kehidupan masyarakat secara cerdas.

Perkembangan khazanah Islam dalam ranah budaya nusantara Indonesia merupakan sebuah integrasi antara ruh dan kepribadian masyarakat dalam mengemban sebuah tanggung jawab suci sebagai insan manusia. Sehingga terdapat sebuah nilai profan dan sakral secara indah dalam realita kehidupan masyarakat secara kaffah.

Memang tidak dapat di pungkiri dalam kehidupan budaya masyarakat terkadang terdapat sebuah nilai yang bertentangan dengan nilai khazanah Islam. Maka semua itu di butuhkan sebuah paradigma berpikir baru dalam mensinergikan antara nilai Islam dengan budaya, tentu semua tak lepas dalam menggali khazanah Islam dalam ranah budaya nusantara.

Keberadaan budaya nusantara begitu luas dalam kehidupan masyarakat. Berangkat dari situlah diperlukan sebuah tatanan nilai kearifan lokal dengan mensinergikan dengan khazanah Islam dalam melakukan berbagai pelaksanaan dalam kehidupan Sehari-hari. Sehingga khazanah Islam dengan budaya nusantara mampu mencapai sebuah bangunan nilai antara ruh dan kepribadian secara sehat dan sempurna ditengah-tengah kehidupan masyarakat secara universal. Allah maha kuasa atas apa yang Dia kehendaki. Allah maha mengetahui segala. Dan Dia maha penolong yang paling baik.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
............

Dominasi Barat Terhadap Pendidikan Indonesia


Barat dengan segudang teori mampu melakukan berbagai gebrakan dalam menguasai di segala aspek kehidupan. Bahkan pendidikan sebagai pintu gerbang sebuah peradaban, ternyata barat mampu meletakkan pondasi keilmuan dengan cerdas dalam menata berbagai paradigma klasik sampai ranah kontemporer. Sehingga dominasi paradigma barat tidak sekedar dirasakan di dalam dunia pendidikan Indonesia, tetapi mampu keseluruh wajah pendidikan yang ada di dunia dalam meletakkan pondasi paradigma keilmuan.

Kemajuan paradigma barat telah di tunjukkan sejak abad masa silam, sejak sebelum masehi dengan penemuan berbagai ilmu pengetahuan, Bahkan kita kenal dengan istlah filsafat, logika dan masih banyak lagi ilmu pengetahuan yang di telurkan paradigma barat, tentu dengan modal latar belakang keilmuan yang super canggih dimasanya, bahwa paradigma barat telah mampu melakukan dominasi ilmu pengetahuan di seluruh penjuru dunia, tetapi yang paling parah Indonesia sebagai lubang impor gagasan barat dalam menerapkan berbagai ilmu pengetahuan.

Paradigma berpikir barat memang populer dengan istilah rasional dalam menjawab sebuah persoalan. Namun dalam perjalanan sebuah nilai rasional terkadang berbenturan dengan Nilai-nilai kearifan masyarakat lokal. Sehingga konsep barat terlihat indah dalam makna sebuah gagasan, tetapi dalam realita kehidupan tidak sejalan dengan budaya masyarakat secara luas.

Kalangan cendekiawan dan para pemikir yang berhaluan barat di masa menempuh di dunia pendidikan. Sebagian menganggap, bahwa dengan ilmu barat mampu mengubah segala paradigma Indonesia dengan cerdas, tetapi saat di terapkan dalam kehidupan nyata, ternyata mengalami sebuah benturan antara fakta dan sebuah teori, tentu membuat kaget para pengagum barat, padahal di masa kuliah menganggap gagasan barat merupakan sebuah bentuk kecerdasan dalam membangun sebuah bangsa. Namun dalam praktek di lapangan mengalami sebuah perbedaan yang sangat mencolok. Sehingga antara teks dan konteks mengalami sebuah keterpisahan satu sama lain.

Pendidikan Indonesia sebagai pintu gerbang dalam membangun sumber daya manusia, tetapi fakta di lapangan, ternyata pendidikan Indonesia dalam mengolah pola pikir cenderung mengadopsi ilmu barat. Sehingga kemampuan lulusan dari pendidikan Indonesia mengalami ketidak seimbangan antara teori dan praktek. Mengingat tidak semua gagasan barat harus di ambil dalam kehidupan masyarakat secara luas. Sebab gagasan barat banyak yang bersebarangan dengan sosial, budaya, moral dalam kehidupan masyarakat.

Gagasan barat tentang ilmu pengetahuan sangat dominan dalam berbagai aspek kehidupan. Bahkan masalah moral barat juga meletakkan pondasi dengan istilah HAM maupun humanisme sebagai tolak ukur tentang nilai sebuah bangunan moral, padahal bangunan HAM dan humanisme cenderung mengarah pada Nilai-nilai barat tentang kebebasan individu, tanpa melihat dari aspek lain. Sehingga menghasilkan sebuah hipotesis yang cenderung sepihak dalam meletakkan pondasi kemanusian secara kaffah.

Sebenarnya, kekayaan nusantara tidak kalah dengan bangunan moral barat, seperti falsafah tepa selira tidak hanya sebuah kebebasan individu dalam sebuah penilaian moral. Namun tepa selira menekankan sebuah nilai bangunan tentang keadilan dan juga penyeimbangan antara individu dan sosial dalam meletakkan sebuah gagasan tentang kehidupan, agar terjadi sebuah keseimbangan antara individu dan sosial dalam menerapkan sebuah Nilai-nilai moral.

Eksistensi dominasi barat terhadap pendidikan Indonesia dalam sebuah bangunan ilmu pengetahuan, sering kita kenal dengan istilah liberal dalam membangun sebuah nilai moral, padahal liberal versi barat sangat tidak cocok dengan bangunan moral masyarakat Indonesia. Inilah sebuah realita yang harus di pahami segenap masyarakat yang berkecimpung di dunia pendidikan.

Keberadaan pendidikan Indonesia sebagai pengejawantahan antara nilai individu dan sosial, agar terjadi saling berkesinambungan dalam menjalankan sebuah teori dan praktek di lapangan, tentu semua dibutuhkan paradigma berpikir yang cerdas dalam meggali sebuah nilai khazanah nusantara.

Sudah saatnya, bahwa pendidikan Indonesia berdiri di kaki sendiri dalam membangun sebuah konsep pendidikan yang menekankan dengan sebuah proses menggali dari khazanah nusantara. Sehingga dalam praktek di lapangan para pelajar tidak terjadi sebuah paradigma yang menggantungkan dari gagasan barat.

Melepaskan pendidikan Indonesia dari dominasi barat merupakan sebuah kewajiban dalam merekonstruksi total, agar konsep pendidikan dan isi materi dalam dunia pendidikan Indonesia mampu mencapai sebuah corak pandang dengan masyarakat nusantara. Sebab nilai tentang paradigma barat dengan istilah liberalisme, marxisme, nihilisme, positivisme, materialisme, Darwinisme dan masih banyak gagasan barat bersebarangan dengan pijakan masyarakat Indonesia.

Membangun pendidikan Indonesia di butuhkan sebuah penggalian dari khazanah nusantara, agar dalam melakukan sebuah rekonstruksi pendidikan mampu berjalan seimbang antara konsep dan realita. Bahkan para pelajar Indonesia di tuntut kreatif dan inovatif dengan gagasan keilmuan nusantara, bukan sekedar mengadopsi paradigma barat. Dan Allah memberi petunjuk kepada yang benar, tiada Tuhan selain Dia.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
...........

Membedah Paradigma Barat, Membangun Paradigma Islam



Paradigma pada dunia pendidikan Indonesia, tak lepas dari pengaruh paradigma barat dalam menjelaskan beragam persoalan tentang kehidupan. Bahkan yang sungguh memprihatinkan banyak pelajar yang taklid buta dengan paradigma barat dengan mengamini, tanpa ada sebuah kritik maupun upaya dalam melakukan sebuah kajian ulang tentang paradigma barat.

Membedah paradigma barat di butuhkan sebuah analisa tentang Pokok-pokok ajaran barat dalam melakukan beragam kajian. paradigma barat cenderung mengarah tentang masalah logika, padahal logika yang di bangun paradigma barat hanya mengambil satu kajian dalam makna Sepotong-potong dalam menerjemahkan sebuah persoalan, dan setelah itu mengambil sebuah kesimpulan, tanpa melihat Premis-premis kecil yang lain.

Sedangkan paradigma Islam berupaya membangun pondasi ilmu pengetahuan dengan bentuk sebuah keseimbangan antara teks maupun konteks. Sehingga menghasilkan sebuah pola pikir yang kaffah dan tidak cenderung mengarah pada satu dalil dalam mengambil di setiap persoalan.

Bangsa barat sangat pandai bermain dalam wilayah rasional, untuk mengungkapkan sebuah yang di anggap kebenaran, padahal kebenaran yang di bangun cenderung kebenaran semu dalam menerjemahkan sebuah persoalan, tetapi sangat mengherankan banyak dari kaum pelajar di seluruh dunia yang tergila-gila dengan bangunan paradigma barat dalam mencari sebuah kebenaran.

Memang sangat di akui, bahwa logika dalam pemahaman barat telah di jadikan alat mencari sebuah kebenaran, tetapi logika paradigma barat hanya bertumpu pada kekuatan rasio, padahal permasalahan kehidupan sangat kompleks, tidak hanya sebatas masalah logika, namun jauh dari itu banyak misteri kehidupan yang tidak dapat di ungkap secara rasional. Kalau segala problem di selesaikan dengan kekuatan rasio, tentu akan menghasilkan sebuah kajian yang tidak seimbang dalam menerjemahkan sebuah persoalan.

Bangunan Islam dalam melakukan sebuah rekonstruksi paradigma pemikiran, tak lepas antara teks maupun konteks dalam menerjemahkan dalam sebuah persoalan, agar dalam melakukan sebuah permainan logika tidak mengalami over rasio yang mengakibatkan destruktif dari sisi yang lain.

Wajah paradigma barat cenderung pada satu sisi rasio dalam menerjemahkan sebuah persolan, Misalnya masalah paradigma kapitalisme cenderung satu sisi tentang kebebasan individu, begitu juga marxisme cenderung mengarah kediktatoran sosial. Berangkat dari dua contoh inilah, bahwa paradigma barat terjebak dalam satu sisi analisa dalam kajian, tetapi Islam mengajarkan secara kaffah dalam kehidupan.

Persoalan kehidupan begitu kompleks dalam tatanan sosial, tentu tidak hanya dapat di cari dalam satu sisi, tetapi harus di terjemahkan dalam beragam sisi, agar terjadi sebuah keseimbangan dalam mengkaji sebuah persoalan, dan semua itu di butuhkan sebuah kajian dalam bangunan secara lengkap dalam mengambil sebuah kesimpulan.

Liberal merupakan bagian dari ajaran bangsa barat tentang kebebasan, tetapi liberal dalam pemahaman para penggila gagasan paradigma barat, ternyata cenderung terjebak dalam kebebasan individu dan paling banter kebebasan dalam kelompoknya. Sehingga gagasan liberal yang di bangun barat hanya sebatas pada nilai secara parsial. Sedangkan bangunan dalam paradigma Islam tidak hanya sebatas sebuah pada Nilai-nilai kebebasan individu maupun kebebasan kelompok, tetapi membangun sebuah pondasi tentang Nilai-nilai kemanusiaan, moral, keadilan, kesejahteraan dan masih banyak lagi dalam ulasan tentang kehidupan.

Membedah paradigma barat tak lepas dari sebuah kajian tentang rasio dalam setiap memaparkan sebuah dalil, tetapi Islam berbicara melalui perpaduan antara jiwa dan akal dan di bungkus dalam istilah wahyu, tentu Islam berusaha membangun sebuah tatanan paradigma secara kaffah dalam kehidupan masyarakat secara luas.

Dari ulasan diatas dapat di ambil sebuah pemahaman, bahwa paradigma barat hanya mengambil satu sisi dalam menerjemahkan tentang sebuah persolan, tetapi Islam mengambil dari berbagai sisi secara kaffah, agar terjadi sebuah corak pandang yang bijaksana dalam mencari sebuah kesimpulan. Dan Allah lebih mengetahui segala Ilmu, Dia menciptakan dan memilih apa saja yang di kehendaki-NYA.

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)....................