Ledakan Boom di kampung Muslim, Kristen Dan Islam Mulai Memanas (NO SARA)



Entah apa yang terjadi saat ini di Ambon, ketika ada umat kristen terbunuh, maka dengan cepat umat kristen menuduh umat Islam yang melakukan tindakan tersebut, begitu pula kalau umat Islam yang terbunuh, maka Kristenlah yang di tuduh melakukan pembunuhan. Berangkat dari situlah menunjukkan bahwa Ambon telah tumbuh subur Ekstrimisme yang mengarah melegalkan pertumpahan darah atas nama sebuah agama.

Ambon terkenal dengan kota pahlawan pattimura, pada saat mengingat pahlawan Pattimura kita di ingatkan sejenak sejarah Maluku yang punya pahlawan heroik dan pemberani, namun dapat di kalahkan dengan politik adu domba, tipu muslihat dan bumi Maluku dihanguskan oleh Belanda. Lalu kenapa Maluku tidak belajar dari sejarah kekalahan Pattimura? Bahwa kekalahan sebuah bangsa dan perjuangan di tingkat lokal maupun inter lokal tak lepas dari sebuah politik adu domba dan tipu muslihat, sehingga wajar saat ini Maluku sering terjebak konfliks yang berbau SARA. Karena menghancurkan Maluku tidak ada cara lain, kecuali dengan tipu muslihat dan adu domba. Nah! dari situlah Maluku harus belajar mendepankan kepentingan yang lebih luas, bukan malah terjebak pola pikir Ekstrimisme sesaat.

Ledakan Boom di kampung Muslim merupakan bentuk provokasi yang dapat memicu perang lebih jauh lagi, tentu dengan tujuan dari pihak yang ingin membuat Ambon memerah bersimbah darah, agar perang antar Kristen dan Islam pecah kembali di tanah Ambon, semua tak lepas dari kepentingan politis yang penuh tipu daya dalam melegalkan segala cara menuju singgasana kekuasaan.

Ledakan boom di kampung muslim tak lepas dari asumsi masyarakat Kristen yang mempersoalkan peristiwa penusukan terhadap seorang sopir angkot, Rabu (14/12) malam. Dengan kejadian itu umat Kristen berkumpul di gereja dan menggalang massa yang siap berangkat membumi hanguskan kampung muslim, seperti kejadian terror Kristen Ambon terhadap Muslim di tahun 1999.

Pertumpahan darah antar Kristen dan Islam di Ambon memang tidak pernah ada habisnya, karena permasalahan SARA ini sudah menjadi budaya masyarakat Ambon, tetapi bisa di minimalisir kerusuhan antara kristen dengan Islam, tentu dengan cara mengedepankan dialog dalam mengambil sebuah keputusan, bukan malah memakai aksi kekerasan yang jauh dari nilai kemanusiaan. Semoga Ambon tidak terjadi perang atas nama agama lagi, Amiens............

Salam dari kami Jejaring sosial kiber (www.kitaberbagi.com)..........
....

0 komentar:

Posting Komentar